Hujan meteor Phoenicid adalah kejadian langit yang sering terjadi pada akhir tahun. Keunikan dari hujan meteor ini adalah hanya ada di bagian selatan Bumi. Negara-negara seperti Australia, Selandia Baru, Afrika Selatan, dan Indonesia beruntung dapat menyaksikan hujan meteor ini.

Berapa lama lagi kita bisa melihat puncak hujan meteor Phoenicid dan apa yang menarik tentangnya? Ayo, mari kita lihat penjelasannya secara lengkap di bawah ini!
Baca Juga:
Cerita Tentang Asal Mula Hujan Meteor Phoenicid
Hujan meteor Phoenicid pertama kali terlihat pada bulan Desember 1956 oleh Ekspedisi Penelitian Antartika Jepang. Menurut Star Walk, hujan meteor ini berasal dari pecahan komet yang dapat kita sebut D/1819 W1 (Blanpain). Titik munculnya berada di konstelasi Phoenix. Secara klasifikasi, hujan meteor ini sebenarnya masuk ke dalam hujan meteor yang kecil.
Menurut laporan Phys.org, penemuan komet Blanpain yang menjadi penyebab hujan meteor Phoenicid pertama kali pada tahun 1819 sebelum akhirnya menghilang. Hingga pada tahun 2003, para peneliti menemukan sisa-sisa asteroid yang berada di jalur orbit komet Blanpain. Yang mana mereka yakini telah berusia lebih dari 100 tahun. Oleh karena itu, para peneliti menyimpulkan bahwa komet Blanpain telah hancur sejak satu abad yang lalu. Saat ini lebih tepat mereka menyebutnya sebagai asteroid.
Hujan meteor ini yang kita lihat sebenarnya adalah sisa-sisa debu dan gas yang berasal dari komet Blanpain. Yang mana telah mengalami kehancuran. Debu dan gas itu keluar dari jalur orbit asteroid. Lalu, akan bertabrakan dengan atmosfer Bumi ketika planet kita berada dalam jarak yang dekat.
Tapi jangan khawatir, semua bahan dari hujan meteor Phoenicid akan terbakar sepenuhnya saat memasuki atmosfer kita. Jadi, kita masih bisa menikmati keindahannya dengan tanpa kekhawatiran.
Banyaknya dan Kecepatan Hujan Meteor Phoenicid
Untuk menghitung jumlah meteorit dalam satu waktu, umumnya peneliti gunakan indeks populasi. Indeks ini mengacu pada kecerahan cahaya yang meteorit pancarkan. Semakin rendah nilai indeksnya, semakin terang cahaya yang dapat kita lihat dari hujan meteorit tersebut.
Dalam mengukur kecepatannya, para peneliti sering menggunakan Zenith Hourly Rate atau ZHR. Ketika meteorit semakin mendekati orbit Bumi, kecepatan yang hujan meteor hasilkan juga semakin tinggi.
Baca Juga:
Dalam kasus hujan meteor yang satu ini, sebenarnya peristiwa ini tergolong cerah. Dalam hal jumlah meteornya, hujan meteor ini memiliki peringkat 3. Sementara itu, kecepatan hujan meteor ini mencapai 12 kilometer per detik ketika mendekati orbit Bumi.
Cara untuk Mengamati Fenomena Phoenicid
Hujan meteor Phoenicid sebenarnya terjadi hampir setiap tahun. Biasanya, fenomena ini terjadi pada rentang tanggal 28 November hingga 9 Desember setiap tahunnya. Pada tahun sebelumnya, puncak dari hujan meteor ini terjadi pada tanggal 6 Desember.
Indonesia termasuk salah satu daerah yang akan mengalami fenomena hujan meteor tersebut. Di kota Jakarta, hujan meteor yang satu ini mencapai puncaknya antara pukul 19.15 WIB hingga 02.00 WIB. Namun, waktu yang paling ideal untuk menyaksikan puncak hujan meteor ini adalah pukul 20.00 WIB. Karena titik puncaknya berada di posisi tertinggi di langit.
Jika Anda tertarik untuk menyaksikan fenomena langit ini, pastikan Anda pergi ke tempat yang minim polusi cahaya.
Untuk melihat dengan lebih jelas, kamu bisa mengunjungi daerah dataran tinggi, pantai, atau area yang minim cahaya. Selain itu, sebaiknya pergi sebelum waktu puncaknya agar mata dapat menyesuaikan dengan kegelapan terlebih dahulu.
Dengan begitu, saat hujan meteor mencapai puncaknya, kamu dapat melihatnya dengan lebih jelas. Tidak perlu mencoba merekamnya karena fenomena ini sulit terekam oleh kamera, terutama kamera HP.
Apakah kamu ingin melihat hujan meteor Phoenicid? Ayo, ajak keluarga, teman, pasangan, atau orang yang kamu suka untuk menyaksikan keindahan hujan meteor di akhir pekan ini!










Bales ke