Sains

Hyperloop, Moda Transportasi Revolusioner yang Siap Gebrak Transportasi Umum

Saat ini, kita sedang hidup di era dengan perkembangan teknologi yang teramat pesat. Setiap perubahan dari satu jenis teknologi ke jenis terbaru, selalu berprogres secara eksponensial. Hal ini membuat orang-orang harus menyesuaikan diri dengan perubahan yang ada.

Andai manusia dari masa lampau dapat melihat keadaan saat ini, mungkin di mata mereka planet kita sekarang sudah seperti negeri dongeng. Kita memiliki berbagai penemuan yang jauh lebih maju dan tak terbayangkan dibanding dengan yang ada di masa lalu.

Tentu, hingga kini sudah ada banyak sekali penemuan yang berhasil mengubah kehidupan kita. Selain itu, ada juga bagian-bagian dari kehidupan modern yang tak banyak berubah sejak dahulu. Dalam konteks berkendara misalnya, jalanan masih penuh sesak oleh mobil dan motor, sementara langit masih berhias pesawat komersil dengan bentuk yang tak jauh beda.

Impian kita untuk menciptakan perubahan-perubahan baru hingga kini tak pernah mati. Pada akhirnya, kini muncul satu ide baru untuk membuat moda transportasi massal yang sangat revolusioner. Moda transportasi ini lebih cepat dalam mengantar penumpangnya, dan dapat mengurangi dampak buruk pada lingkungan di sekitarnya. Proyek ini dinamakan Hyperloop.

BACA JUGA:
Akibat Hina Pedo Guy, Elon Musk Dituntut Triliunan Rupiah!

Hyperloop boleh jadi bukanlah sebuah ide yang terdengar ajaib, ia bukan alat teleportasi yang bisa menembus ruang. Namun, Hyperloop tetap menarik untuk jadi bahan perbincangan, karena konsepnya sangat berbeda dengan moda transportasi masa kini.

Pada kesempatan kali ini, Teknodaim akan membahas mengenai proyek Hyperloop. Tentang perkembangannya saat ini, dan dampaknya pada dunia di masa yang akan datang.

Jadi, Apa Itu Hyperloop?

Apa Itu Hyperloop
Proyek Hyperloop | inet.detik.com

Konsep Hyperloop muncul dari seorang miliarder dan penemu berkebangsaan AS, yaitu Elon Musk. Seperti yang kita ketahui, ia adalah CEO dari perusahaan antariksa SpaceX, dan juga sosok di balik perusahaan kendaraan listrik Tesla.

Konsep ini ia buat sebagai bentuk reaksi atas sistem rel berkecepatan tinggi California. Proyek tersebut sekarang sedang dalam masa pengembangan, yang menurut Elon Musk sendiri terasa mengecewakan.

Konsep Hyperloop yang cetusan Elon Musk ini masih dalam tahap pengembangan dan uji coba, terdiri dari dua tabung masif yang memanjang dari San Francisco hingga Los Angeles. Tekanan udara di dalamnya terbilang rendah sehingga wahana yang mengangkut penumpang atau barang dapat melesat tanpa harus menghadapi banyak hambatan.

BACA JUGA:
Begini Alasan Elon Musk Batal Untuk Mengakuisisi Twitter

Baca Juga:

Menurut estimasi, wahana Hyperloop yang berbentuk kapsul tersebut akan mampu melakukan perjalanan pada kecepatan maksimal 700 mil per jam. Perjalanan dari San Francisco menuju Los Angeles (atau sebaliknya) diproyeksikan memakan waktu hanya sekitar 35 menit. Sebagai perbandingan, menempuh jarak yang sama dengan mobil membutuhkan waktu sekitar enam jam. 

Apabila perbandingannya dengan kota-kota di Indonesia, maka waktu tempuh sekitar setengah jam tersebut bisa membawa penumpang dari Jakarta menuju kota Yogyakarta.

Tentu, estimasi kecepatan Hyperloop adalah satu hal yang luar biasa, dan sudah cukup untuk menunjukkan seberapa jauh umat manusia telah berinovasi. Namun, keunggulan Hyperloop ternyata bukan hanya kecepatannya, tapi ada juga aspek lain yang tak kalah revolusioner. Kapsul Hyperloop tersebut beroperasi tanpa bahan bakar minyak, yang artinya bisa berkontribusi pada penurunan pemanasan global dan penyebaran emisi karbon (meski mungkin nantinya bisa bersinggungan juga dengan para taipan petroleum).

BACA JUGA:
Cara Cek Riwayat Transaksi Gojek dengan Mudah dan Cepat

Pada tahun 2021 ini, perkembangan Hyperloop menjadi semakin cepat berkat adanya Virgin Hyperloop, sebuah perusahaan yang memang lahir untuk komersialisasi Hyperloop. Di masa depan, Hyperloop rencananya akan mampu menampung 25 hingga 30 orang, dan bisa membawa puluhan ribu penumpang setiap jamnya.

Satu-satunya hal yang harus segera Virgin Hyperloop dapatkan untuk mewujudkan mimpi itu adalah dana tak kurang dari 500 juta dolar AS, atau sekitar 7,2 triliun rupiah menurut kurs hari ini (25/6). Dana tersebut perlu ada untuk membangun fasilitas uji coba, dan fasilitas uji coba itu ada untuk mendapatkan sertifikasi atas teknologi perusahaan tersebut.

Kemungkinan, teknologi ini bisa mendapat sertifikasi sekitar tahun 2026, dan setelahnya Hyperloop bisa mulai berjalan di berbagai belahan Bumi. Amerika Serikat sebagai tempat pengembangan teknologi tersebut, kemungkinan besar akan jadi negara pertama yang memiliki moda transportasi satu ini.

BACA JUGA:
Elon Musk Terkena COVID-19, Tapi Hasilnya Kok Aneh?

Bagaimana Jadinya Hyperloop di Indonesia

Contoh Hyperloop
Contoh Hyperloop | railway-technology.com

Kami sangat antusias ketika membahas topik ini. Bayangkan apabila Hyperloop sudah ada di Indonesia, hanya butuh setengah jam bagi kita untuk bepergian dari Perpustakaan Nasional menuju Malioboro, menyegarkan otak dengan berjalan-jalan ke kota yang jauh setelah belajar seharian.

Dengan kecepatannya dan daya tampung yang terbilang tinggi, Teknodaim memprediksi bahwa teknologi ini akan membawa perubahan yang signifikan pada kehidupan sosial. Nantinya akan ada kelompok orang dengan mobilisasi tinggi, mereka bisa bepergian dari satu tempat ke tempat yang lain dalam waktu yang singkat. Kelompok ini kemungkinan berasal dari golongan orang-orang kantoran yang sibuk mencari relasi dan melakukan ekspansi usaha.

Bisa juga, teknologi ini menjadi wahana favorit bagi kaum wisatawan ekstra ekstrovert, yang tidak nyaman diam di rumah sebentar saja sehingga bisa berpindah-pindah destinasi setiap harinya.

BACA JUGA:
Ingin Balik Modal, Elon Musk Lakukan Ini ke Twitter!

Hyperloop memang revolusioner dari segi konsep, dan akan merevolusi berbagai sudut kehidupan apabila berhasil dijalankan. Mari kita tunggu, kapan gebrakan teknologi ini bisa mulai diakses publik.

Referensi: Digital Trends, ERA.ID

Related Posts