OpenAI, perusahaan yang mengembangkan ChatGPT, chatbot berkecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dikatakan sedang menghadapi masalah keuangan yang serius. Lalu bagaimana nasib ChatGPT kedepan? Yuk simak sampai habis pembahasan berikut ini.
Paling tidak itu adalah kesimpulan yang didapat dari analisis yang dilakukan oleh India Magazine, seperti yang dilaporkan kembali oleh Windows Central belum lama ini.
Ada beberapa hal yang membuat OpenAI berada dalam situasi yang mengkhawatirkan seperti menuju kebangkrutan. Misalnya, ada masalah dengan biaya operasional ChatGPT yang tinggi dan juga perbedaan pandangan di dalam perusahaan.
Baca Juga:
- 9 Skill Bidang AI yang Paling Dicari Saat Ini dan Perlu Kamu Persiapkan
- 10 Atlet eSport Indonesia Terkaya Saat Ini, Penghasilan Mencapai 7 Miliar
- Fitur Baru WhatsApp ‘Share Screen’ Saat Video Call, Begini Cara Pakainya!
Nasib ChatGPT Kedepan

Saya percaya bahwa OpenAI menghabiskan sekitar 700.000 dollar AS (sekitar Rp 10,7 miliar) setiap harinya hanya untuk mengoperasikan satu layanan, yaitu chatbot AI ChatGPT.
Jumlah itu disebut-sebut belum termasuk uang yang diperlukan untuk membeli unit grafis pengolahan (GPU) agar ChatGPT dapat beroperasi dengan baik.
Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, ChatGPT menggunakan infrastruktur atau mesin kecerdasan buatan (AI) dari Microsoft, yang dikenal sebagai Azure, dengan dukungan dari banyak unit pengolah grafis (GPU) yang diproduksi oleh Nvidia.
Microsoft menampilkan gambaran rak-rak yang penuh dengan berbagai GPU Nvidia untuk meningkatkan kinerja kecerdasan buatan mereka. Selain itu, OpenAI juga menginvestasikan lebih banyak dana untuk menciptakan model bahasa yang dikembangkan oleh perusahaan, seperti GPT-3.5 pada ChatGPT, yang lebih kuat dan lebih cerdas.
Masalahnya adalah, sejak OpenAI diluncurkan, mereka telah mencatat kerugian sebesar 540 juta dolar AS atau sekitar 8,26 triliun rupiah sejak ChatGPT debut pada November 2022.
OpenAI sebenarnya mendapatkan dukungan keuangan dari beberapa pihak, termasuk Microsoft. Kerja sama antara kedua perusahaan ini diperpanjang hingga Februari 2023 melalui investasi sebesar 10 miliar dolar AS (sekitar Rp 151 triliun). Namun, dukungan keuangan dari investor ini tidak dapat diandalkan karena dapat dihentikan sewaktu-waktu.
OpenAI mencoba untuk menghasilkan uang dari model bahasa GPT-3.5 (yang digunakan dalam ChatGPT) dan GPT-4. Namun, hingga saat ini, upaya ini belum menghasilkan pendapatan yang mencukupi untuk mencapai titik impas. Masalah keuangan ini menjadi salah satu alasan mengapa analis memprediksi OpenAI sedang mengalami kesulitan keuangan.
Sam Altman, sebagai CEO perusahaan ini, memiliki target pendapatan tahunan sebesar 200 juta dolar AS (sekitar 3 triliun rupiah) pada tahun 2023, dan 1 miliar dolar AS (sekitar 15,3 triliun rupiah) pada tahun 2024.
Saya berpendapat bahwa target pendapatan ini terlihat sangat berani, mengingat kerugian yang semakin bertambah setiap harinya.
API OpenAI Memiliki Berpotensi Masalah Besar
Setelah menjadi sangat populer pada awal tahun 2023, sekarang ini nasib ChatGPT sedang mengalami penurunan jumlah pengguna yang signifikan.
Berdasarkan data dari SimilarWeb, jumlah pengguna ChatGPT mengalami penurunan sebesar 12% pada bulan Juli 2023 dibandingkan bulan Juni 2023. Jumlah pengguna turun dari 1,7 miliar menjadi 1,5 miliar. Penurunan ini terjadi pada pengguna yang menggunakan chatbot AI ChatGPT di situs web, tidak termasuk pengguna yang menggunakan API (Application Programming Interface) OpenAI.
Saya melihat bahwa API OpenAI bisa menjadi bumerang bagi OpenAI. Mengapa? Karena melalui API-nya, OpenAI memberikan akses ke beberapa model bahasa besar yang bersifat sumber terbuka yang dapat digunakan dan didistribusikan kembali tanpa perlu lisensi.



Bales ke