Ella Irwin, yang dulunya menjadi kepala kepercayaan dan keamanan di Twitter, telah menjelaskan pendapatnya untuk pertama kalinya setelah mundur dari platform media sosial terbesar di Amerika Serikat. Namun, dia tidak menjelaskan alasan tersebut secara jelas.
Irwin mengungkapkan melalui akun Twitternya pada Jumat malam bahwa ia menyadari banyak spekulasi yang berkembang tentang alasan pengunduran dirinya, sehari setelah kabar tersebut menyebar luas.
Saya memang mengalami kegagalan, namun saya melihatnya sebagai pengalaman yang berharga sepanjang hidup saya.
Ella Irwin
Seseorang bernama Irwin menjadi salah satu eksekutif penting di Twitter yang bertanggung jawab dalam mengawasi moderasi konten di seluruh dunia. Irwin sering mengkritik perusahaan tempatnya bekerja karena kurangnya perlindungan terhadap konten yang dapat membahayakan pengguna, terutama setelah Twitter diakuisisi oleh miliarder Elon Musk pada Oktober 2022.
Baca juga: Bos Tesla, Elon Musk Dituduh Manipulasi Harga Dogecoin (Cryptocurrency)
Alasan Ella Irwin Resign dari Twitter
Irwin pergi pada saat Twitter sedang mengalami tekanan dari sebuah kelompok yang mendukung video “What Is A Woman“. Video ini dianggap sebagai anti-transgender dan kelompok tersebut menuduh Twitter telah melanggar perjanjian dengan tidak mendistribusikan video tersebut secara gratis. Twitter menghentikan penyebaran video tersebut, kata mereka.

Suatu kelompok konservatif menanyakan pendapat Musk mengenai masalah ini. Musk berkata bahwa Twitter telah melakukan kesalahan dan bahwa video tersebut mungkin kasar namun tidak melanggar hukum.
Musk memposting video tersebut di akun Twitter pribadinya dan menambahkan kalimat “ini penting untuk dilihat oleh semua orang tua.”
Beberapa media di Amerika Serikat melaporkan bahwa setidaknya satu pejabat Twitter akan mengundurkan diri setelah insiden yang terjadi.
Beberapa minggu sebelum Linda Yaccarino mengambil alih posisi Musk sebagai pengguna Twitter nomor satu, muncul sebuah perdebatan yang kontroversial.
Perilaku Musk telah menimbulkan kekhawatiran bagi para pengiklan. Sebagian besar dari mereka memilih untuk tidak lagi berkaitan dengan Twitter karena takut produk mereka dikaitkan dengan konten yang tidak pantas.
Setelah membeli Twitter dengan harga US$44 miliar, nilai saham Twitter terus menurun. Hal ini terjadi terutama setelah banyak pengguna sayap kanan kembali ke platform ini sementara pengguna yang dipercayai justru pergi.