Apple dan Google Kolaborasi Bikin Pelacak Covid-19, Ampuh!

in , ,
Apple Dan Google Kolaborasi By Teknodaim
Gambar Ilustrasi | Okezone Tekno

Sebelum bahas soal Apple dan Google yang kolaborasi bikin aplikasi, Teknodaim mau ngasih tau bahwa kita sekarang punya Channel YouTube. Dimana disana kamu bisa menemukan konten video Tutorial, Review dan lain-lain, jadi klik tombol Subscribe ya.

Berbagai upaya sudah dilakukan oleh Pemerintah dan Operator untuk menciptakan program atau aplikasi pelacakan orang-orang yang pernah berinteraksi dengan pasien terjangkit Covid-19. Terbaru, ada Apple dan Google yang juga melakukan hal serupa.

Aplikasi Lacak Covid-19 Besutan Apple dan Google

Lewat pengumuman yang di posting melalui akun Twitter resminya, masing-masing CEO dari raksasa teknologi Apple dan Google menulis mereka kini mengembangkan program baru. Dimana program itu ditujukan untuk melacak penyebaran Covid-19.

Program kolaborasi mereka itu adalah pelacak penyebaran virus Corona dengan menggunakan catatan perangkat melalui BLE atau Bluetooth Low Energy. Sambungan Bluetooth digunakan untuk melacak orang yang pernah berdekatan satu sama lain.

Konsep atau metode pelacakan yang digunakan Google dan Apple adalah Contact Tracing, yaitu melacak perangkat setiap orang yang pernah berdekatan satu sama lain, melalui Bluetooth pada ponsel masing-masing. Apple dan Google kolaborasi.

Untuk masalah data yang dikumpulkan tidak akan bisa dilihat oleh pengguna biasa, tapi hanya bisa diakses oleh aplikasi resmi milik badan kesehatan masyarakat. Ini juga tentunya akan melaporkan pengguna yang positif terinfeksi Corona (Covid-19).

Untuk setiap orang yang pernah berdekatan dengan pasien positif, maka sistem secara otomatis akan mengirimkan notifikasi. Dengan begitu, mereka bisa melakukan isolasi mandiri dan mencegah penularan terhadap orang lain lagi. Ide yang bagus bukan?

Sayangnya, program Apple dan Google yang dimaksud baru akan diperkenalkan di Android dan iOS pertengahan Mei mendatang. Nama program itu adalah application programming interface (API), mungkin masih banyak yang harus mereka evaluasi.


Sumber: Detik Inet

What do you think?